Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 18 Februari 2017

Proyeksi Pemeriksaan Antebrachi

Proyeksi Pemeriksaan Antebrachii ada 2 yaitu :


  1. AP
  2. PA
  3. LATERAL
Untuk proyeksi pemeriksaan Antebrachii yang biasa dilakukan di rumah sakit yaitu posisi AP dan Lateral.

Proyeksi Pemeriksaan AP

  • PP (Posisi Pasien) = Pasien duduk menyamping di meja pemeriksaan dengan posisi tangan bagian atas diletakkan ke kaset
  • PO (Posisi Objek) = Lengan bawah diletakkan supine, dan memanjang di atas kaet, sehingga pergelangan tangan dan sendi siku termasuk di atas kaset.
  • Ukuran kaset = 18x24 untuk anak-anak dan 24x30 untuk dua gambaran dengan posisi kaset vertikal
  • CP = Pada pertengahan mid (Medial) Ossa Antebrachii
  • CR = Tegak Lurus Vertikal
  • FFD = 90-100cm
  • Marker R/L
  • Batas atas yaitu 1/3 Distal Oss Humerus dan Batas bawah 1/3 Proksimal Carpal.

Kriteria Gambaran = Pada posisi ini kedua sendi antara wrist joint dan elbow joint harus terlihat dalam gambaran lalu tulang radius dan ulna juga 1/3 oss carpal.


Kriteria Evaluasi :

  • Tulang Radius dan Ulna tidak superposisi.


Proyeksi Pemeriksaan LATERAL

  • PP (Posisi Pasien) = Pasien duduk menyamping meja pemeriksaan.
  • PO (posisi Objek) = Elbow joint difleksikan membentuk sudut 90 derajat pada meja pemeriksaan lengan bawah diletakkan posisi lateral di atas kaset dengan tepi ulnaris menempel pada kaset.
  • Ukuran kaset = 18x24 untuk anak-anak dan 24x30 untuk dua gambaran dengan posisi kaset vertikal
  • CP = Pada mid (medial) pertengahan ossa Antebrachii
  • CR = Tegak Lurus Vertikal
  • FFD = 90-100 cm
  • Marker = R/L
  • Batas Atas yaitu 1/3 Dital Humerus dan batas bawahnyah 1/3 Proksimal Oss Carpal
Kriteria gambaran = Pada posisi ini Kedua sendi seperti Wrist joint dan Elbow joint harus masuk pada gambaran juga carpal.



Kriteria evaluasi = 
  • Superposisinya tulang radius dan ulna pada bagian distal
  • Superposisinya caput radial di atas processus koronoideus
  • Epicondilus humerus superposisi.

Proyeksi Pemeriksaan Elbow Joint

Proyeksi Pemeriksaan Elbow Joint

Untuk Proyeksi Pemeriksaan Elbow Joint ada 8 yaitu :


  1. AP Full Ekstensi (AP biasa)
  2. AP Not Full Ekstensi
  3. AP Obliq-Lateral (External) Rotation
  4. AP Obliq-Medial (Internal) Rotation
  5. Lateral (Lateromedial)
  6. Acute Flexion (Metode Jones)
  7. Trauma Axial Laterals-Axial Lateromedial
  8. Radial Head Laterals-Lateromedial 
Tetapi untuk pemeriksaan Elbow Joint di Rumah Sakit itu hanya 2 Proyeksi yaitu Proyeksi AP dan Lateral.


Proyeksi AP

  • PP (Posisi Pasien)  = Pasien duduk disamping meja pemeriksaan 
  • PO (Posisi Objek) = Ekstensikan tangan pasien dengan bagian atas lengan menempel pada kaset Luruskan siku pasien agar epicondyles humerus dan permukaan anterior siku sejajar dengan kaset untuk lapangan kolimasinya dari 1/3 Proksimal Antebrachii sampai distal Humerus.
  • Ukuran kaset = 18x24 vertikal atau 24x30 untuk dua gambaran Horizontal
  • CR = Tegak lurus Vertikal
  • CP = Elbow 
  • FFD = 90-100 cm

Kriteria Gambaran = Oss Humerus, Epicondyles medial dan Lateral, Trochlea, Capitulum, Coronoid Tubercle, Oss Radiu dan Ulna.

Kriteria Evaluasi = Adanya Spes pada Elbow Joint dan Tampak caput,cullum, dan tuberositas sedikit superposisi diatas proksimal Ulna.


Proyeksi Pemeriksaan Lateral 
  • PP (Posisi Pasien) = Pasien duduk di samping meja pemeriksaan dengan menempatkan antebrachii di atas kaset
  • PO (Posisi Objek) = Posisikan lengan pasien Fleksi 90 derajat pastikan epicondylus humerus tegak lurus terhadap bidang kaset. atur lapangan kolimasi dari 1/3 Proksimal Antebrachii sampai Bagian distal Humerus.
  • Ukuran Kaset = 18x24 Vertikal dan 24x30 untuk dua gambaran Horizontal.
  • CR = Tegak lurus Vertikal
  • CP = Pada mid (Pertengahan) Elbow joint atau 4cm di atas Process Olecranon.
  • FFD = 90-100 cm

Kriteria Gambaran = Distal Humerus, Proksimal Antebrachii, Process Olecranon, Trochlea dan epicondyles lateral.



Kriteria Evaluasi = Proses Olecranon terlihat, Lateral Epicondyles superposisi dan Tampak Tuberositas radial menghadap ke anterior dengan caput radii sebagian superposisi dengan proses Koronoideus.

TEKNIK PEMERIKSAAN HUMERUS

 1. Anatomi Os Humerus
Tulang humerus terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaput (ujung atas), korpus, dan ujung bawah.



1)       Kaput
Sepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah kepala, yang membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapla dan merupakan bagian dari banguan sendi bahu. Dibawahnya terdapat bagian yang lebih ramping disebut leher anatomik. Disebelah luar ujung atas dibawah leher anatomik terdapat sebuah benjolan, yaitu Tuberositas Mayor dan disebelah depan terdapat sebuah benjolan lebih kecil yaitu Tuberositas Minor. Diantara tuberositas terdapat celah bisipital (sulkus intertuberkularis) yang membuat tendon dari otot bisep. Dibawah tuberositas terdapat leher chirurgis yang mudah terjadi fraktur.

2)       Korpus
Sebelah atas berbentuk silinder tapi semakin kebawah semakin pipih. Disebelah lateral batang, tepat diatas pertengahan disebut tuberositas deltoideus (karena menerima insersi otot deltoid). Sebuah celah benjolan oblik melintasi sebelah belakang,  batang, dari sebelah medial ke sebelah lateral dan memberi jalan kepada saraf radialis atau saraf muskulo-spiralis sehingga disebut celah spiralis atau radialis.

3)       Ujung Bawah

Berbentuk lebar dan agak pipih dimana permukaan bawah sendi dibentuk bersama tulang lengan bawah. Trokhlea yang terlatidak di sisi sebelah dalam berbentuk gelendong-benang  tempat persendian dengan ulna dan disebelah luar etrdapat kapitulum yang bersendi dengan radius. Pada kedua sisi persendian ujung bawah humerus terdapat epikondil yaitu epikondil lateral dan medial. (Pearce, Evelyn C, 1997) 

2. Indikasi pemeriksaan :
   1. Dislokasi/luksasi
   2. Fraktur , fissure
   3. Kelainan patologi

3. Tujuan pemeriksaan humerus :
   Untuk mengetahui struktur os humerus dengan proyeksi tertentu beserta kelainan yang mungkin ada pada daerah tersebut. 

4. Proyeksi AP

    • PP : berdiri
    • PO : Lengan bawah dan tangan diatur dalam posisi AP
    • CR : Horisontal tegak lurus
    • CP : Pertengahan obyek
    • FFD : 90cm
   • Struktur yang terlihat : keseluruhan tulang humerus ( kedua sendi harus tampak ) tampak   dalam posisi AP                                                                    • Kriteria evaluasi :
a. Elbow dan shoulder joint masuk dalam lapangan penyinaran 
b. Humerus dalam posisi true AP :
  Epicondylus terlihat maksimal dan tidak mengalami rotasi
    Tuberositas mayor dan minor terlihat jelas
  Tuberositas minor terletak antara caput humerus dan tuberositas mayor 
c. Sinar yang divergen menyebabkan elbow joint sebagian tertutup





  
5. Proyeksi LATERAL
    • PP : Berdiri
  • PO : Tangan diletakkan di pinggang, sehingga sendi siku membentuk sudut.
    • CR : Horisontal
    • CP : Pertengahan obyek yang diperiksa
    • FFD : 90cm
   • Struktur yang terlihat : Tampak gambaran lateral humerus, caput humerus menghadap ke posterior, tampak elbow joint.
  
• Kriteria evaluasi : 
  a. Elbow dan shoulder joint masuk dalam lapangan penyinaran 
   b. Humerus dalam posisi true lateral
       Epicondylus superposisi
       Tuberositas minor jelas
       Tuberositas mayor superposisi

 




6. PROYEKSI TRANSTHORACIC LATERAL ( Metode Lawrence ) 
   Digunakan apabila lengan atas tidak bisa di abduksi untuk proyeksi lateral
    • Film : 18 x 24cm / 24 x 30cm + grid
    • PP : Berdiri atau duduk menyamping
   • PO : Lengan yang dipriksa menempel kaset. Angkat lengan yang tidak diperiksa diletakkan di atas meja.
    • CR : Horisontal tegak lurus kaset
    • CP : Pertengahan obyek yang diperiksa
    • FFD : 90cm
  • Exposi pada saat full inspirasi dan tahan napas untuk mempertahankan kontras dan menurunkan faktor eksposi
  • Struktur yang terlihat : Tampak ½ - 2/3 proksimal humerus dalam proyeksi lateral dan melewati thorax.
   • Kriteria evaluasi :
     a. Proksimal humerus tampak
     b. Humerus dalam posisi lateral
    c. Batas garis humerus tampak jelas menembus ribs dan lapangan paru
   d. Humerus dan shoulder yang tidak diperiksa tidak superposisi dengan obyek yang diperiksa
    e. Humerus tidak superposisi dengan vertebra thoracal

7. PROYEKSI LATERAL DECUBITUS
Posisi pasien : Tidur miring  (lateral), dengan tepi yang tidak difoto dekat meja pemeriksaan
Posisi objek : Os humerus lurus di samping tubuh, articulatio cubiti full fleksio, ossa manus prone didepan articulatio humeri dari tepi yg difoto. Kaset horizontal diletakkan di antara os humerus dan tubuh dengan salah satu tepinya sejauh mungkin masuk ke dalam pangkal os  humerus diatur memanjang  pada garis tengah film , dengan articulatio cubiti termasuk kedalamnya, ossa antebrachi prone diatas kaset
Pengaturan sinar : FFD : 90 cm, CR : tegak lurus bidang film, CP : pertengahan os humerus


sumber : 
Ballinger, Philip W. dan Eugene D. Frank. 2003. Merrill’s Atlas of Radiographic Positions and Radiologic Prosedures, Tenth Edition, Volume Three. Saint Louis : Mosby.

Teknik Radiografi Scapula

Proyeksi pemeriksaan Scapula


Untuk proyeksi pemeriksaan Scapula ada  2 yaitu :

  • AP
  • Lateral
  • Y view (Tangensial)
Untuk Proyeksi pemeriksaan yang sering dilakukan di rumah sakit hanya AP dan Lateral 
Untuk Klinisnya biasanya Fraktur di Scapula.

Proyeksi pemeriksaan AP 

  • PP (Posisi Pasien) = Pasien berdiri (Erect) atau Tiduran (Supine)
  • PO (Posisi Objek) = Tubuh dirotasikan 30 derajat ke arah yang sakit, sehingga scapula sisi yang yang diperiksa paralel dengan film, pada posisi supine sisi yang sehat diganjal dengan sandbag dan tangan diletakkan di atas scapula
  • Ukuran kaset = 24x30 cm Vertikal
  • CR = Horizontal atau vertikal tegak lurus.
  • CP = Pada mid scapula menuju pertengahan kaset.
  • FFD = 90 cm
  • Marker = R/L orientasi AP

Kriteria gambaran : Scapula, Coracoid Process, Acromion, Glenoid cavity, Inferior angle Clavicula, dan Lateral border.


Kriteria Evaluasi : 

  • Bagian lateral dari scapula harus bebas superposisi dari costae
  • Scapula terlihat horizontal dan tidak obliq
  • Detail dari scapula dapat dilihat pada bagian yang superposisi dengan paru-paru dan costae
  • Processus acromion harus masuk dalam foto.

Proyeksi pemeriksaan Lateral

  • PP (Posisi pasien) = Pasien berdiri (Erect) membelakangi arah sinar
  • PO (Posisi Objek) = Siku pada sisi yang diperiksa dalam keadaan fleksi, lengan sedikit abduksi dan diletakkan dibelakang tubuh dan tubuh dirotasikan 60-70 derajat sehingga sisi yang diperiksa dekat dengan film dan bidang scapula tegak lurus terhadap kaset.
  • Ukuran kaset = 24x30 cm Vertikal
  • CR = Tegak lurus Horizontal
  • CP = Pada pertengahan scapula menuj pertengahan kaset.
  • FFD = 90 cm
  • Marker = R/L Orientasi PA 

Kriteria gambaran : Scapula, Coracoid Process, Acromion, Inferior angle.

Kriteria Evaluasi : 

  • Bagian vertebrae pada daerah axila terlihat superposisi
  • Scapula terbebas dari superposisi dengan humerus.
  • Proses Acromion dan angulus inferior harus masuk dalam radiograf.
  • Bagian yang tebal dari lateral scapula harus terlihat dengan densitas yang jelas.

Proyeksi Pemeriksaan Clavicula

Proyeksi Pemeriksaan Clavicula


Proyeksi pemeriksaan Clavicula ada 2 yaitu :


  1. AP
  2. AP Axial

Proyeksi pemeriksaan Clavicula biasanya dengan klinis seperti : Fraktur, Corpus Alienum (Benda Asing), dan Dislokasi.


Proyeksi Pemeriksaan AP :

  • PP (Posisi Pasien) = Pasien Berdiri (Erect) atau Tiduran (Supine) dengan punggung menempel pada meja pemeriksaan atau bucky stand.
  • PO (Posisi Objek) = Posisikan Bahu dan Tulang Clavicula berada di tengah-tengah kaset.
  • Ukuran kaset = 24x30 cm Horizontal
  • CR = Tegak lurus Horizontal
  • CP = Pada Mid (Pertengahan Clavicula)
  • Kolimasi = dari Proksimal Humerus sampai Sternoclavicular joint
  • FFD = 90-100 cm
  • Marker = R/L orientasi AP

Kriteria gambaran : Seluruh Oss Clavicula, Akromioclavicular joint dan Sternoclavicular joint.

2 Gambaran clavicula R/L

Kriteria Evaluasi : Tulang Clavicula Superposisi dengan tulang-tulang lainnya.


Proyeksi Pemeriksaan AP Axial

  • PP (Posisi Pasien) = Pasien Berdiri (Erect) atau Tiduran (Supine) dengan punggung menempel pada meja pemeriksaan atau bucky stand
  • PO (Posisi Objek) = Posisikan tumbuh bagian bawah pasien condong ke depan kira-kira 45 derajat dengan bahu tetap menempel pada kaset.
  • Ukuran kaset = 24x30 cm Horizontal
  • CR = Menyudut Cranial (Cephalad) 0-15 derajat.
  • CP = Pada Mid (Pertengahan) Ossa Clavicula
  • Kolimasi = dari Proksimal Humerus sampai sternoclavicular joint.
  • FFD = 90-100 cm
  • Marker = R/L Orientasi AP
Kriteria Gambaran : Keseluruhan Oss Clavicula, Akromioclavicular joint dan Sterno Clavicular joint.

Kriteria Evaluasi : Ossa Clavicula Terlempar sehingga bebas atau tidak superposisi dengan Ribs.

Teknik Pemeriksaan Radiografi Vertebra Cervical

Teknik Pemeriksaan Radiografi Vertebra Cervical

Pemeriksaan radiografi vertebra cervical adalah pemeriksaan radiografi untuk melihat anatomi ataupun kelainan-kelainan pada vertebra cervical (tulang leher). Teknik-teknik dasar yang biasa digunakan untuk pemeriksaan ini meliputi proyeksi Anterior Posterior (AP) open mouth, Anterior Posterior (AP) axial, Axial Oblique, Lateral, dan Lateral Swimmer’s. Akan tetapi proyeksi-proyeksi tersebut digunakan sesuai klinis. Sekarang kita akan belajar tentang proyeksi Oblique baik AP maupun PA serta proyeksi Lateral Swimmer’s. silahkan simak… :)
PROYEKSI AP AKSIAL OBLIQUE
Posisi RPO dan LPO
Proyeksi oblique digunakan untuk menunjukkan foramina intervertebralis cervical. Pertama kali dijelaskan oleh Barsony dan Koppenstein. Kedua sisinya diperiksa untuk perbandingan.
Kaset : Kaset yang digunakan dalam proyeksi ini yaitu kaset dengan ukuran 8×10 inchi (18x24cm) memanjang
SID: Gunakan SID sekitar 60-72 inchi (152-183 cm). Hal ini ditujukan untuk mengurangi magnifikasi karena OID meningkat.
Posisi pasien : Tempatkan pasien dalam posisi terlentang atau tegak menghadap tabung x-ray. Posisi tegak (berdiri atau duduk) lebih baik untuk kenyamanan pasien dan memudahkan untuk memposisikan pasien.
Posisi objek : Posisikan tubuh pasien dengan sudut45 derajat, dan pusatkan cervical di tengah IR.Aturpusat IR pada cervical tiga (1 inch [2,5 cm] superior ke titik yang paling menonjol dari kartilago tiroid) untuk mengimbangi angulasi cephalic dari pusat sinar.
Posisi Berdiri : Mintalah pasie dukuk atau berdiri lurus dan rileks. Kemudian sandarkan bahu yang berdekatan dengan grid vertikal bertujuan untuk dukungan. Pastikan bahwa rotasi tubuh adalah 45 derajat. Pasien diminta melihat lurus ke depan, dan jika diperlukan angkat dan julurkan dagu sehingga mandibula tidak tumpang tindih tulang belakang. Hindari rotasi dagu untuk mencegah superposisi dengan cervical.
Posisi Semisupine : Putar kepala pasien dan tubuh sekitar 45 derajat. Kemudian pusatkan cervical spine pada garis tengah grid. Berikan pengganjal di bawah dada dan pinggul ditinggikan. Selain itu beri pengganjal di bawah kepala pasien, dan sesuaikan sehingga kolumna servical mendatar. Periksa kembali dan sesuaikan rotasi tubuh 45 derajat. Tinggikan dagu pasien dan julurkan rahang seperti untuk posisi berdiri. Hindari rotasi dagu untuk mencegah superposisi dengan cervical.
Proteksi Radiasi : Gunakan Perisai gonad.
Respirasi : Tahan nafas
Central ray : Sinar diarahkan ke C4 pada sudut 15-20 derajat cephalad sehingga sinar pusat bertepatan dengan sudut foramina
Struktur ditunjukkan : Gambar yang dihasilkan menunjukkan foramina intervertebralis dan pedikel terjauh dari IR dan proyeksi miring dari badan dan bagian lain dari vertebra cervical.
Kriteria Evaluasi
Berikut ini perlu dibuktikan dengan jelas:
  • Foramina intervertebralis membuka pada gambaran, dari C2-C3 ke C7-T1
  • Terbuka diskus intervertebralis space
  • Ukuran dan kontur foramina sama
  • Dengan mengangkat dagu sehingga tidak menyababkan overlaping pada atlas dan axis
  • Tulang oksipital tidak tumpang tindih aksis
  • Tampak keselutuhan vertebra C1 sampai C7 dan T1
PROYEKSI PA AKSIAL OBLIQUE
Posisi RAO dan LAO
Kaset : Kaset yang digunakan dalam proyeksi ini yaitu kaset dengan ukuran 8×10 inchi (18x24cm) memanjang
SID : SID 60 sampai 72 inchi (152-183 cm) dianjurkan karena jarak OID meningkat
Posisi pasien : Tempatkan pasien tiduran atau berdiri tegak dengan membelakangi tabung x-ray. Untuk kenyamanan pasien dan pengaturan objek yang akurat, posisi berdiri atau berdiri tegak lebih disukai.
Posisi objek :
Posisi Upright : Mintalah pasien untuk duduk atau berdiri tegak dengan lengan di samping dan bahu menempel pada grid. Putar tubuh pasien dengan sudut 45 derajat untuk menempatkan lubang foramina sejajar dengan IR. Pusatkan cervical spine ke garis tengah grid.
Semiprone Posisi : Atur tubuh pasien pada sudut 45 derajat dan cervical spine berpusat pada garis tengah grid. Mintalah pasien menggunakan lengan dan menekuk lutut untuk mengangkat tubuh dan mempertahankan posisi. Tempatkan pengganjal yang sesuai di bawah kepala pasien untuk menempatkan kolumn cervical sejajar dengan IR. Untuk memungkinkan penyudutan caudal dari sinar pusat, maka pusat IR di tingkat dari C5 (1 inch [2,5 cm] caudal ke titik yang paling menonjol dari tiroid kartilago). Sesuaikan posisi kepala pasien sehingga midsagittal plane sejajar dengan bidang tulang belakang. Tinggikan dan julurkan dagu pasien secukupnya untuk mencegah superimposisi mandibula dengan vertebra servikal bagian atas. Hindari rotasi dagu untuk mencegah superposisi dengan cervical. (Dagu harus menoleh sedikit untuk posisi semiprone.)
Proteksi Radiasi : Gunakan Perisai gonad.
Respirasi : Tahan nafas
Central ray : Diarahkan ke C4 pada sudut 15 sampai 20 derajat caudad sehingga bertepatan dengan sudut foramina
Struktur ditunjukkan : Gambar yang dihasilkan menunjukkan foramina intervertebralis dan pedikel pada IR dan proyeksi obliq dari tubuh serta bagian lain dari kolumna cervical.
Kriteria Evaluasi
Berikut ini seharusnya tak secara jelas menunjukkan:
  • Terbukanya foramina intervertebralis, dari vertebra servikal pertama dan kedua sampai vertebra cervical ketujuh dan toracal pertama
  • Terbuka diskus space intervertebralis
  • Mengangkat dagu dan menjulurkan rahang menyababkan mandibula tidak overlap dengan vertebra servikal pertama dan kedua
  • Tulang oksipital tidak tumpang tindih aksis
  • Tampak ketujuh cervical dan vertebra thoracic pertama
PROYEKSI LATERAL (Metode Twining)
R atau posisi L
Proyeksi ini sering disebut proyeksi “LATERAL SWIMMER’S“.
Kaset : Kaset yang digunakan dalam proyeksi ini yaitu kaset dengan ukuran 24 x 30 cm memanjang
Posisi pasien : Tempatkan pasien pada posisi lateral, baik duduk atau berdiri, didepan perangkat grid vertikal.
Posisi objek : Pusatkan midcoronal plane tubuh pada garis tengah grid. Tinggikan lengan yang berdekatan dengan perangkat grid vertikal, tekukkan siku dan kemudian lengan bawah ditempatkan di kepala pasien. Atur ketinggian IR sehingga berpusat pada level C7-T1, yang akan berada pada level vertebra prominens posterior. Atur kepala pasien dan tubuh menjadi posisi true lateral, dengan midsagittal plane paralel terhadap bidang IR. Tekan bahu pasien yang terjauh dari IR sebanyak mungkin, dan gerakan keanterioe tubuh. Kemudian gerakan bahu paling dekat dengan IR lebih ke posterior tubuh. Tujuannya agar satu bahu ditempatkan sedikit anterior dan sedikit posterior lainnya, dengan ketinggian simultan dari satu bahu dan depresi dari bahu yang berlawanan. Penempatan bahu ini cukup untuk mencegah caput humeri superimposisi dengan tulang belakang.
Proteksi Radiasi : Gunakan Perisai gonad.
Respirasi : Tahan nafas. Jika pasien dapat kooperatif dan dapat diimobilisasi, waktu paparan yang lama (mA rendah) harus digunakan ketika pasien mengambil napas pendek. Napas pendek dapat mengaburkan anatomi paru-paru.
Central ray :• Diarahkan ke ruang antar-diskus C7 dan T1: (1) tegak lurus jika bahu tertekan dengan baik atau (2) menyudut 5 derajat caudal jika bahu tidak dapat tertekan dengan baik. Collimation harus sangat dekat untuk mengurangi radiasi hambur dan meningkatkan kontras.
Struktur ditunjukkan : Gambar yang dihasilkan menunjukkan proyeksi lateral vertebra cervical bawah dan vertebta thoracal atas diantara kedia bahu.
Kriteria Evaluasi
Berikut ini perlu dibuktikan dengan jelas:
  • Gambaran lateral dari vertebra yang tidak terlalu rotasi.
  • Kedua bahu terpisah satu sama lain
  • Tampak daerah vertebra dari sekitar C5 sampai T4
  • X-ray penetrasi daerah bahu

Teknik Pemeriksaan Radiografi Kepala

SKULL AP
1. Tujuan Pemeriksaan
a.     Untuk mengetahui dan melihat bentuk dan lokasi serta kedudukan skull AP
b.     Untuk mengetahui adanya kelainan pada daerah tersebut
2. Indikasi Pemeriksaan
a.     Kelainan patologis
b.     Trauma
c.    Corpus alienum
3. Landasn Teori
Teknik radiografi Cranium pada Philip W, Ballinger, “Merrills Atlas of Radiographic Position and Radiologic Prosedures”, Edisi 8, tahun 1995, hal 425
    4. Alat dan Bahan
a.    Pesawat sinar-x
b.    Kaset radiografi 24x30 cm 1 buah
c.    Film radiografi 24x30 cm 1 buah
d.    Sand bag
e.    Marker R/L
f.     Alat prosesing
5. Prosedur Kerja
a.   Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
b.  Atur tabung pesawat sinar-x di atas meja pemeriksaan dan atur berkas sinar pada pertengahan
c.  Posisikan pasien di meja pemeriksaan dengan posisi objek yang diperiksa yaitu cranium proyeksi AP
d.   MSP tegak lurus bidang film
e.   Pastikan tidak terjadi perputaran objek kepala
f.    OML tegal lurus bidang film
g.   Atur Central Point pada glabella
h.   Atur Central Ray, yaitu vertikal tegak lurus film
i.    FFD = 100 cm
j.   Berikan faktor eksposi kV = 70 mAs = 0,125
6. Kriteria Gambaran
        Lihat gambar di bawah ini :





SKULL LATERAL
1. Tujuan Pemeriksaan
a.     Untuk mengetahui dan melihat bentuk dan lokasi serta kedudukan skull lateral
b.     Untuk mengetahui adanya kelainan pada daerah tersebut
2. Indikasi Pemeriksaan
a.     Kelainan patologis
b.     Trauma
c.    Corpus alienum
3. Landasan Teori
Teknik radiografi Cranium pada Philip W, Ballinger, “Merrills Atlas of Radiographic Position and Radiologic Prosedures”, Edisi 8, tahun 1995, hal 420
4. Alat dan Bahan
a.    Pesawat sinar-x
b.    Kaset radiografi 24x30 cm 1 buah
c.    Film radiografi 24x30 cm 1 buah
d.    Sand bag
e.    Marker R/L
f.     Alat prosesing
5. Prosedur Kerja
a.   Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
b.  Atur tabung pesawat sinar-x di atas meja pemeriksaan dan atur berkas sinar pada pertengahan
c.  Posisikan pasien di meja pemeriksaan dengan posisi objek yang diperiksa yaitu skull proyeksi lateral
d.   MSP sejajar bidang film
e.   Infra Orbito Meatal Line (IOML) sejajar bidang film
f.    Intra Pupilary Line (IPL) tegak lurus bidang film
g.   Atur Central Point pada 5 cm di atas Meatus Acusticus Externa (MAE)
h.   Atur Central Ray, yaitu vertikal tegak lurus film
i.    FFD = 100 cm
j.   Berikan faktor eksposi kV = 70 mAs = 0,125
6. Kriteria Gambaran
        Lihat gambar di bawah ini :



SKULL PA
1. Tujuan Pemeriksaan
a.     Untuk mengetahui dan melihat bentuk dan lokasi serta kedudukan skull PA
b.     Untuk mengetahui adanya kelainan pada daerah tersebut
2. Indikasi Pemeriksaan
a.     Kelainan patologis
b.     Trauma
c.     Corpus alienum
3. Landasan Teori
Teknik radiografi Cranium pada Philip W, Ballinger, “Merrills Atlas of Radiographic Position and Radiologic Prosedures”, Edisi 8, tahun 1995, hal 432
4. Alat dan Bahan
a.    Pesawat sinar-x
b.    Kaset radiografi 24x30 cm 1 buah
c.    Film radiografi 24x30 cm 1 buah
d.    Sand bag
e.    Marker R/L
f.     Alat prosesing
5. Prosedur Kerja
a.   Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
b.  Atur tabung pesawat sinar-x di atas meja pemeriksaan dan atur berkas sinar pada pertengahan
c.  Posisikan pasien di meja pemeriksaan dengan posisi objek yang diperiksa yaitu skull proyeksi PA
d.   Dahi dan hidung menempel meja pemeriksaan
e.   MSP kepala tegak lurus bidang film
f.    Orbito Meatal Line (OML) tegak lurus bidang film
g.  Atur Central Point pada glabella atau nasion dengan meletakkan glabella atau nasion di pertengahan kaset
h.   Atur Central Ray, yaitu vertikal tegak lurus film
i.    FFD = 100 cm
j.   Berikan faktor eksposi kV = 70 mAs = 0,125
6. Kriteria Gambaran
        Lihat gambar di bawah ini :